KOMPOS

Sampah organik merupakan salah satu bahan baku yang baik dalam pembuatan kompos. Sampah yang telah dicacah kemudian diproses melalui penyaringan sehingga tersaring bagian yang halus. Pada sampah halus tersebut akan dilakukan pencampuran dan fermentasi sehingga menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan dapat dijual dengan harga yang murah ke masyarakat. Dengan memotong biaya seperti biaya transportasi serta biaya bahan baku maka kompos yang dihasilkan bisa dijual lebih murah dibandingkan dengan kompos di pasar. 
Pemasaran juga dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak-pihak ketiga seperti kelompok tani yang ada di wilayah produksi. Kerjasama-kerjasama ini akan membuka pasar dan menyerap hasil produksi kompos tersebut.

DAPAT MENYEDIAKAN BERBAGAI KUALITAS

1.  Raw material kompos                Rp. 200,-  - Rp, 500,- per kg
2. Fine kompos siap granule         Rp. 400,-  -Rp. 600,- per kg
3. Kompos Granule                         Rp. 900,- - Rp.1.000,- per kg
 

 Briket Biomassa

Briket Biomassa (Carbonized & Non Carbonized)
Biomassa merupakan sisa-sisa kegiatan dari makhluk hidup yang memiliki energi untuk dijadikan bahan bakar. Biomassa tersebut dibentuk menjadi silinder-silinder kecil agar dapat digunakan dalam skala rumah tangga maupun KUKM 

Dengan kalori serta pembakaran yang hampir setara dengan minyak tanah, briket biomassa dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk kebutuhan pengolahan makanan, masak, pengeringan, pembakaran, pemanasan dan sebagainya.
Briket biomassa ini dapat diproduksi oleh masyarakat dengan dengan murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara massal dalam waktu yang relatif singkat menggunakan teknologi serta peralatan yang sederhana.
 

 Pupuk Organik

Bahan baku hasil dari pengolahan belum dapat disebut pupuk organik. Untuk dapat diolah menjadi pupuk organik maka harus diberikan pengolahan lebih lanjut. Pengolahannnya adalah mencampur dengan bahan-bahan lainnya, misalkan cocopeat yang mempunyai C lebih tinggi, sehingga menghasilkan C/N ratio yang lebih baik.. Kemudian nutrisinya juga ditambah  untuk menghasilkan kandungan yang lebih baik bisa dengan fish meal, blood and bone dan lain-lainya.
Setelah menjadi pupuk kemudian dikemas dengan ukuran yang dikehendaki oleh pasar,umumnya ukuran 20 kg atau ukuran 40 kg. Pengguna pupuk organik ini cukup banyak jika dijual dengan harga yang wajar.
Harga jual per karung Rp, 10.000,-/ 20 kg, untuk Partai mendapatkan discount pembelian. Kami dapat melayani dari berbagai daerah di Indonesia.
 

PostHeaderIcon Pengolahan Daur Ulang

Dari hasil pengolahan sampah, juga dihasilkan  plastik dengan berbagai jenis. Ada 6 jenis plastik yang sangat laku di pasaran meliputi HD,PE, HDPE, PP dan beberapa jenis lainnya. Plastik-plastik tersebut jika dilakukan pengolahan yang meliputi sortir berdasarkan jenisnya lalu kemudian berdasarkan warnanya maka sudah ada penampungnya
Tetapi jika diolah hingga lebih lanjut ,maka harga jual dari produk daur ulang tersebut menjadi lebih tinggi. Untuk plastik yang sudah dirobek , dicuci dan dikeringkan bisa mempunyai harga dari Rp. 2.000,- per kg hingga Rp, 6.000,- per kg tegantung dari  jenisnya.
Hasil akhir dari daur ulang plastik, berupa biji plastik yang digunakan oleh industri dengan mutu yang lebih rendah. Ember hitam untuk bangunan contohnya, gagang sapu, pengki dan lain-lainnya. Industri daur ulang ini secara terpisah dan serius harus dikembangkan karena selain dapat memberikan lapangan pekerjaan, juga dapat mengatasi problem lingkungan.  Selain plastik lembaran, maka plastik lainnya seperti botol aqua, botol shampo maupun botol lainnya dapat diproses daur ulang dengan teknis yang berbeda.
Kendala yang dihadapai adalah network sudah ada sulit ditembus oleh pemain baru, dan pabrik pengolahan yang besar hanya berada di beberapa kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung dan Medan. Mengatasinya adalah dengan menggunakan pengepresan hingga 5:1 untuk menghemat biaya transportasi. Tetapi dalam mengelola bisnis tidak harus cepat putus asa, semua itu dapat diatasi melalui pehitungan dan inovasi yang baik.(sumber solusisampah.com)

KLH MERINTIS PROGRAM 3 R


 Pada 6 September 2006, terkait dengan tugas utama Kementrian Lingkungan Hidup dalam Tim Adholic penanganan sampah Bandung adalah perintis dan pengembangan program 3R (reduce, reuse, recyle). KLH  telah membuka jalan yang lebih terbuka dan nyata. Anggaran Program 3R bersumber pada APBN (ABT) tahun 2006. kemudian mendapatkan dukungan dari united nation centre for regional development ( UNCRD) Nagoya, jepang. Program ini merupakan cooperation between developed and developing conries in promotion of 3R. Program 3R ini berada dibawah kendali Asdep Urusan Limbah Domestik dan Usaha Skala Kecil pada Diputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH.
Untuk melancarkan program ini telah dilakukan penyusunan strategi nasional penerapan 3R (reduce, reuse dan recycle) di Indonesia di Jakarta, 6 September 2006. KLH


Menyelenggarakan penyusunan strategi penerapan 3R dengan melibatkan kalangan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, LSM, dan lain-lain. Beberapa kegiatan program 3R adalah seminar/workshop, sosialisasi, dan perintis pilot project. Salah satu metropolitan yang dipilih menjadi pilot project adalah Kota Bandung. Hal ini dimaksudkan dapat membantu mengurangi sampah da kkota ini.
Menurut penulis – Tri Bangun L. Sony, Kepala Bidang Persampahan KLH – jargon pengololan sampah kedepan hendaknya di kedepankan pada aspek pengelolaan sampah. Hal ini yang harus di sampaikan kepada seluruh Walikota/Bupati di Indonesia. Karena mereka yang menjadi ujung tombak program pengolahan sampah tersebut, atau kunci pelaksanaan program 3R.
Pada 7 November 2006. koalisi LSM untuk persampahan nasional dan Pusat Industri Daur Ulang (PIDUS)- Zero Waste indonesi melakukan monitoring terhadap pilot project  3R yang dilaksanakan KLH di kota Bandung. Tujuannya untuk melihat keseriusan dan hasil-hasil yang di capai dari implementasi program 3R tersebut. Serta yang paling penting adalah beberapa besar dan intens keterlibatan masyarakat dan sector impormal dalam implementasi program 3R.
Pada 6 Desember 2006. Mentri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar meresmikan pelaksanaan program 3R di Metropolitan Bandung pada 6 desember 2006. mentri didampingi Deputi II Bidang Pengendalian Pencemaran Gempur Adnan, Asdep Urusan Limbah Domestic Mohammad Helmi, Kepala Bidang Persampahan KLH Tri Bangun L. sony, Walikota Bandung Dada Rosada, dan sejumlah petinggi kota bandung. Para petinggi ini langsung menyaksikan demonstrasi mesin pengolah sampah. Program ini lebih nyata, bermanfaat bagi semua pihak, mengurangi tumpukan sampah kota, dan tidak sekedar “proyek menghabiskan anggaran” semata.(sumber solusi sampah.com)

SEGENGGAM BERLIAN DALAM TIMBUNAN SAMPAH



HIDAYAT, Direktur PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran). Bisnisnya mengelola sampah menjadi energi terbarukan, dan menjualnya ke sejumlah perusahaan. Sejumlah perumahan kini memakai jasa manajemen sampah darinya.

Berapa volume sampah yang dihasilkan warga Ibu Kota per hari? Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, tiap orang di kota ini menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari mereka menimbun 26.945 meter kubik atau sekitar 6.000 ton sampah. Kalau seluruh sampah tadi ditumpuk di Taman Monumen Nasional (Monas) yang luasnya 110 hektar, niscaya dalam 40 hari taman itu bakal beralih rupa menjadi timbunan sampah setinggi satu meter!.

Alih-alih diolah menganut prinsip reuse, reduce, recycle, sampah tadi hanya dibuang begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Jika tak memperhitungkan daya tampung, bukan tidak mungkin kasus longsornya timbunan sampah yang menewaskan warga sekitar akan terulang kembali. Kabar terbaru, kini ada enam perusahaan asal Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Singapura yang berebut proyek pengelolaan sampah di Bantar Gebang. Mereka mengaku mampu mengolah dan menghasilkan kredit karbon sesuai konsep clean development mechanism (CDM).

Sejatinya, di pinggiran Jakarta, ada Hidayat yang mampu mengelola sampah sesuai konsep CDM tadi. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran) miliknya telah melakukan hal-hal yang dijanjikan para pengusaha asing tadi sejak dua tahun silam. Ia bahkan mampu memasok biomassa untuk beberapa perusahaan.

Sampah Ditukar Susu

Semula, Hidayat adalah pemasok bunga krisan ke supermarket Hero. Selain itu, sejak 1993, ia juga memproduksi mesin pengolah sampah, seperti mesin pencacah plastik atau pengepres sampah. Namun, sebagian besar mesin yang dijualnya ternyata hanya menjadi pajangan semata. Pembeli, yang kebanyakan datang dari sejumlah pemerintah daerah, tidak mengoptimalkan pengoperasiannya. “Daripada mesin mangkrak di gudang, mengapa perusahaan tak sekalian menawarkan jasa pengelolaan sampah?” pikir Hidayat, kala itu.

Sebagai langkah awal, Hidayat menawarkan konsep waste management di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, di kawasan Jatimurni, Bekasi. “Resistensi warga besar sekali,” keluh dia. Pria kelahiran Magelang, 26 Agustus 1963 ini lalu meminta izin ketua RT/RW setempat untuk memasang tong sampah di jalan-jalan utama kampung yang banyak dihuni masyarakat kelas sosial bawah. Satu bulan pertama, tiap pagi, karyawan Mittran mengambil sampah. Sebagai perkenalan, ia tak memungut biaya sepeser pun. Sebulan berlalu, di depan rapat warga, ia menawarkan opsi: masyarakat akan terus memakai jasanya untuk membersihkan lingkungan atau tidak. Hasilnya, seluruh warga mufakat terus memakai jasa Mittran. Sebagai pengusaha, ia lalu menuturkan bahwa layanan ini tidak gratis.

Untuk tiap tong sampah, ia memungut biaya retribusi Rp30.000 per bulan. Satu tong bisa dipakai bersama atau secara individual. Jika enam keluarga memakai satu tong, berarti tiap keluarga hanya membayar Rp5.000 per bulan. Nantinya, dengan mobil pikap, pekerja Mittran hanya akan mengambil sampah yang dimasukkan dalam tong. Kalau ada yang tercecer, mereka akan tinggalkan di tempat semula. “Saya ingin masyarakat menghitung berapa banyak sampah yang mereka hasilkan tiap harinya,” papar Hidayat. Jadi, apabila warga hendak menebang pohon atau mengadakan hajatan, yang sekiranya akan menghasilkan sampah lebih banyak dari biasanya, mereka harus berkoordinasi dengan pihak Mittran.

Nah, agar sampah tak meluber ke luar tong, pihak perusahaan menawarkan barter untuk barang yang dapat didaur ulang, seperti buku telepon, koran bekas, atau botol kecap. Tiap kilogram, perusahaan memberi nilai Rp500 yang bisa ditukarkan dengan telur, mi instan, atau susu. Menurut suami Kusmayawati ini, program tersebut bisa merangsang masyarakat untuk memilah sampah yang akan dibuang.

Pilihan memakai tong, bukan bak sampah dari semen, dan menempatkannya di jalan-jalan utama, tidak termasuk di gang sempit, ini demi efisiensi. Hidayat memperhitungkan untuk mengumpulkan satu tong sampah butuh waktu 1,2 menit. Bandingkan dengan bak sampah yang membutuhkan 6 menit karena petugas harus mengais lebih dalam. Ini berarti, dalam satu jam, petugas Mittran mampu mengumpulkan 40–50 tong. Jika jam kerja petugas hanya enam jam, mereka bisa mengambil sampah dari 300 tong dalam satu wilayah yang dihuni 1.500 keluarga. “Kami menerapkan sistem seperti PLN. Jika warga lalai membayar retribusi, pihak perusahaan akan mencabut tong tersebut dan membiarkan sampah terserak di depan rumah mereka,” ucap anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan keluarga TNI ini. Tong tersebut, lanjut dia, merupakan milik perusahaan.

Selain menangani sampah di wilayah Jatimurni, Mittran juga melayani waste management di perumahan di kawasan Cinere, Cibubur, dan Citeureup, selain Pasar Ciroyom, Bandung. “Kalau sekadar membeli mesin pengolah sampah, konsumennya datang dari seluruh penjuru Indonesia,” tutur lulusan Fakultas Ekonomi UI ini, bangga. Kini Mittran kewalahan melayani permintaan dari pengembang perumahan yang terpincut dengan gaya perusahaan mengelola sampah. Meski demikian, perusahaan tak mengambil semua peluang. Pasalnya, volume sampah yang masuk tempat pengolahan harus seimbang dengan kapasitas mesin pengolah, agar tak terjadi penimbunan. Tiap hari, Mittran baru mampu mengelola 7,5 ton sampah.

Hukum Kekekalan Energi

Setelah sampah terkumpul, mobil pikap segera meluncur ke tempat pengolahan. Di tempat itu, sampah dimasukkan ke mesin sortasi. Sampah organik akan dijadikan kompos, sedangkan yang anorganik akan mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci. Hasilnya pun ada dua opsi. Sampah plastik yang kondisinya masih bagus akan dijual untuk didaur ulang oleh pihak lain, sementara sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan biomassa. Pelanggan biomassa buatan Mittran adalah pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Mereka meminta 10.000 ton biomassa per bulan, sayangnya Mittran baru bisa memenuhi 300 ton. Ini belum termasuk permintaan dari pabrik semen lainnya, yakni PT Holcim Indonesia Tbk., dan beberapa pabrik gula. “Mereka pakai biomassa karena harga BBM makin mahal dan ingin mendapatkan kredit karbon,” ungkap Hidayat. Saat ini, lanjut Hidayat, pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Jepang untuk teknologi pengubah plastik menjadi solar, dan pengekstraksi gas metan yang terkandung dalam sampah.

Mittran saat ini mempekerjakan 25 karyawan bagian manajemen, dan puluhan tenaga lepas di tempat pengolahan. Untuk mengepak kompos, misalnya, perusahaan menerima pengangguran yang dibayar Rp100 per kantong yang dihasilkan. Pagi hari mereka menaruh KTP, sore hari bisa mengambilnya kembali plus uang hasil jerih payahnya. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, Mittran menggelar program penciptaan 1.000 entrepreneur sampah. Mereka mendidik calon pengusaha yang tertarik mengembangkan bisnis ini di wilayah lain. “Ini peluang bisnis yang luar biasa. Kalau dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi amat berharga,” tandas Roy Kuntjoro, mitra Hidayat di Rumah Perubahan.

Pada dasarnya, bisnis Mittran berpijak pada hukum kekekalan energi, dan Hidayat dengan cerdas membungkusnya dengan teori bisnis. “Sekarang, kalau melihat daun jatuh dari pohon, saya langsung berpikir, ah, itu energi. Kalau kita olah, bisa dapat duit,” kata Hidayat, terbahak. Penggemar biliar ini menyayangkan potensi energi dan bisnis yang tersimpan dalam gunungan sampah di TPA Bantar Gebang, Leuwigajah, atau Keputih, tetapi tak dimanfaatkan secara optimal. “Daripada susah-susah menggali batu bara dalam perut bumi, mengapa tidak mendapatkannya dari sampah yang ada di sekitar kita?” tanyanya.

Dari bisnis sampahnya itu, menurut taksiran Warta Ekonomi, Mittran mendapatkan setidaknya Rp225 juta per bulan. Ini belum termasuk pendapatan dari penjualan mesin, retribusi sampah, biaya pendidikan calon entrepreneur sampah, dan fee dari perusahaan pemakai jasanya. “Pokoknya cukup untuk menikmati hidup,” kata ayah dari Tio dan Yoga ini, kalem. Kendati demikian, ia mengembalikan keuntungan ke masyarakat dalam bentuk edukasi. Oleh karena prospek bisnis yang nilainya luar biasa, kurang dari sepuluh tahun mendatang ia berencana mendaftarkan perusahaannya ke lantai bursa. Sekali mendayung, perusahaan bisa mengupayakan kebersihan lingkungan, mendapatkan energi alternatif, dan tentu saja menggemukkan pundi-pundinya.

PT Mitratani Mandiri Perdana ("Mittran")
Jl. Raya Hankam Gg. Rambutan No. 51 Jatimurni, Pondok Gede Bekasi
Telepon: 021-8459-2981, 8429-7219 Faks: 021-8459-2981

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan
Hidayat dulu tetangga saya dan adik kelas semasa kuliah di Fakultas Ekonomi UI. Ia tipe entrepreneur sejati yang giat bekerja, inovatif, mau terus belajar, dan pandai mencium peluang. Dia juga memiliki karakteristik sebagai tokoh perubahan. Di tangan dia, sampah bisa menjadi bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek bagus. (sumber solusi sampah.com)

Kunjungan Rombongan Kementrian Lingkungan Hidup bersama Delegasi UNEP dan NCCE Rep.Korea Utara

Pada hari Kamis,
18 Feb 2010 bertempat di kantor Mittran Group - Jatiwarna menerima kunjungan rombongan Kementrian Lingkungan Hidup yang dipimpin oleh Bp. Ujang Solihin  yang membawa delegasi dari United Nations Environment Programme/ UNEP ( Mr. Purna Chandra Lall Rajbhandari ) serta National Coordinating Commitee for Environment /NCEE Rep. Korea Utara ( Mr. Kim Chang Min dan Mr. Song Se IL ) untuk berdiskusi dengan Team Manajemen Mittran  yang dipimpin oleh Bp. Hidayat mengenai proses pengolahan sampah komuniti sera perkotaan yang selama ini ditangani oleh Mittran Group. Selanjutnya rombongan juga meninjau instalasi pengolahan sampah yang terdapat di Jatiwarna ini serta prosesnya dan juga melihat lokasi perumahan-perumahan yang jasa kebersihannya ditangani oleh Mittran Group.(sumber solusi sampah.com)

TUKANG SAMPAH BEROMSET MILYARAN RUPIAH

Sempat berbisnis sebagai pemasok produk pertanian, Hidayat lalu banting setir menjalankan usaha mengelola sampah. Dari hasil jualan mesin dan sistemnya, ia mampu meraih omzet ratusan juta rupiah saban bulan.

Sampah itu menjijikan. Tapi bagi Hidayat, sampah bisa mendatangkan rezeki yang berlimpah ruah. Lewat bendera PT. Mitratani Mandiri Perdana alias Mittran, Hidayat berhasil menjadi pengusaha pengolah sampah dan menghasilkan beberapa produk yang siap jual. Seperti, pupuk organic dan biomassa.

Sebelum terjun ke bisnis produk buangan masyarakat ini, Hidayat sudah lebih dulu berkibar sebagai pengusaha pelbagai produk pertanian. Mittran boleh dibilang sudah malang-melintang menjajakan beragam produk pertanian. Sebutlah beragam jenis pupuk dan pestisida, puluhan model alat-alat pertanian, aneka benih, kursus usaha agribisnis, berbagai jenis mesin pertanian, hingga konsultasi bisnis. Malah, Mittran juga pernah menawarkan jasanya sebagai pialang jual-beli berbagai komoditas.

Pengalaman yang segudang di lahan pertanian ini seolah melenceng dari latar belakang Hidayat. Besar dalam pendidikan tentara dan ibu seorang guru, ia dituntut harus menuruti kehendak orang tua yang ingin anak tunggal mereka bisa berkarier dengan benar. Hingga, Hidayat yang sedari kecil sangat menyukai dunia pertanian harus mengalah untuk kuliah di bidang studi pilihan orang tua yang diyakini punya masa depan cerah, yakni ekonomi.
Sampah sumber rezeki

Nah, dari dua kutub ilmu pengetahuan, pertanian dan ekonomi, Hidayat menemukan satu kombinasi yang unik dalam memulai jalan hidupnya. “intinya, saya bukan tipe orang yang bisa disuruh-suruh,” ucapnya mengomentari keinginan menjadi wirausaha.
Sambil kuliah, Hidayat masih getol bergelut dengan dunia pertanian. Segala perkembangan di seputar usaha cocok tanam ini selalu ia ikuti. Sehingga, ia pun punya kesimpulan: ada satu faktor lagi di dunia pertanian yang bisa membuat lebih berkembang selain budidaya. Yakni, nilai bisnis yang belum tergali. “inilah yang membuat saya berkecimpung di dunia ini,” katanya.

Selepas tamat kuliah, tahun 1992, Hidayat bersama seorang koleganya, Boyke Abidin, mendirikan Mittran dengan modal Rp 20 juta. Usahanya adalah menyediakan pelbagai macam keperluan dunia pertanian. Mulai dari peralatan pertanian, benih, pupuk, hingga mesin pertanian. Kala itu, Mittran sanggup meraih omzet miliaran rupiah saban tahun.

Hidayat sempat pula mencurahkan perhatiannya pada bunga krisan. Bunga yang bagus tumbuhnya di daerah tinggi itu pernah menjadi tanaman hias yang banyak dicari orang. Bertahun-tahun Hidayat berkecimpung di bisnis bunga mungil warna-warni ini. Hingga, ia bisa memiliki sekitar 30 hingga 40 gerai bunga yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan seputar Jakarta.
Sayang, kerusuhan 1998 di Jakarta membuat semua outlet bunga tersebut porak poranda. Padahal, ia telah merintis usaha itu selama hamper 10 tahun. Tidak ada yang ditimbulkan akibat kerusuhan itu. Bahkan, keadaan semakin diperparah dengan lesunya daya beli masyarakat.

Tapi, yang namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Hidayat pun maklum akan kondisi ini. Setelah meninggalkan kegemilangan bisnis bunga krisan, ia mulai beralih menjadi pemasok mesin pertanian. “Bisnis bunga sudah berlalu, lantas bisnis distribusi komoditas pertanian pun marginnya tipis,” imbuh dia. Lalu, tahun 2002, Hidayat mencoba membuat sendiri mesin pertanian ini.

Seiring berjalannya waktu, ia merasa harus mengambil satu spesialisasi dalam membuat mesin pertanian agar lebih fokus. Akhirnya, pilihan jatuh pada mesin pengolah sampah. “Ini bahan baku yang murah untuk bikin mesin pembuat pupuk, “ begitu alasan Hidayat.

Selain itu, Hidayat melihat bahwa sampah kini sudah menjadi masalah pelik, tidak cuma di tingkat pemerintah lokal, tapi juga nasional. Artinya, sampah sebagai bahan baku berlimpah ruah.

Lewat pengetahuan otodidak dan baca sana-sini, ia berhasil menciptakan mesin pengolah sampah yang diberi nama: Sistem Mengolah Sampah Terpadu alias Simaster. Selain dapat mengolah sampah, mesin ini bisa menghasilkan bahan baku pembuat pupuk organik. Inilah salah satu keunggulan dari Simaster.

Awalnya, Hidayat mencoba membeli bahan baku sampah dari masyarakat sekitar. Tapi, ia jadi berpikir kalau langkah ini terus dilakoni akan menambah beban biaya. Sampai kemudian tercetus ide untuk jadi pebisnis sampah mulai dari hulu hingga hilir.

Mittran menjadi pengepul sampah dari masyarakat. Langkah ini ditempuh supaya ia tidak lagi membeli sampah dari masyarakat. Di samping itu, ia menawarkan paket program pembelian mesin pengolah sampah. Selain membeli mesin, si pembeli juga akan diberi pelatihan mengolah sampah dengan benar dan bisa menghasilkan pendapatan dari sampah lewat bahan baku pupuk organik.

Beragamnya paket pelayanan berujung pada omzet yang diraih Mittran. Dari layanan petugas kebersihan, Hidayat berhasil meraih penghasilan Rp 90 juta per bulan. Lantas, dari penjualan mesin pengolah sampah ia bisa meraup omzet Rp 300 juta per bulan. Kemudian, dari hasil menjajakan pupuk organik dan biomassa, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 50 juta – Rp. 60 juta per bulan.

Sepertinya, jadi tukang sampah beromzet miliaran merupakan pilihan hidup Hidayat. “Sudah nasib,” kata Hidayat yang punya cita-cita jadi ahli pertanian ini.
>>Dikutip dari KONTAN Mingguan, Halaman Profil Minggu II, Januari 2009